Info Kit LBT

Konsep Seks dan Pengertiannya

Saatnya Indonesia Mengakui Jenis Kelamin Ketiga

Ardhanary Institute | Senin, 26 Agustus 2013 - 15:19:50 WIB | dibaca: 786 pembaca

Seks mengacu pada jenis kelamin (Sunarto, 2000:112, Macionis, 1989: 314-315) yakni perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki; perbedaan antara tubuh perempuan dan tubuh laki-laki yang menekankan pada perbedaan kromosom dan alat reproduksinya, yang secara biologis melekat secara permanen tidak pernah berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai pemberian Tuhan (kodrat). Oleh karena itu kalau kita berbicara tentang perbedaan jenis kelamin, kita berbicara tentang manusia (Fakih, 1995:8) yang berjenis kelamin laki-laki dan manusia yang berjenis kelamin perempuan.

ArdhanaryInstitute- Pengertian seks di atas adalah pengertian umum masyarakat Indonesia dan juga yang dikembangkan oleh banyak organisasi masyarakat sipil di dalam modul pelatihan mengenai gender dan seksualitas. Bahwa seks atau jenis kelamin, kata kuncinya: bersifat biologis, biner yaitu laki-laki dan perempuan (kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai jantan dan betina), permanen (tidak bisa berubah), dan merupakan pemberian Tuhan (kodrat).

Oleh karena itu, pada saat seorang bayi dilahirkan, pasti yang pertama kali kita pikirkan adalah, “jenis kelaminnya apa?”  Sedangkan dokter atau bidan yang membantu proses persalinan akan melihat kepada alat kelamin untuk memastikan apa jenis kelamin bayi tersebut. Tentunya tidak mungkin “kita” apalagi si dokter atau bidan bersalin termasuk ibu & keluarga besar bayi tersebut membayangkan “menjadi” manusia bagi sang bayi yang baru saja dilahirkan, diluar seks “laki-laki atau perempuan”. Dua jenis ini, laki-laki dan perempuan -bersifat biner sesuai definisi seks di atas-  kita yakini sebagai prasarat sebuah kemasyarakatan tentang identitas manusia. Dan ketika dilihat bayi tersebut memiliki penis maka setelah sang bayi selesai dimandikan dan diserahkan ke pelukan ibunya, akan diinformasikan oleh dokter atau bidan bersalin tersebut mengenai jenis kelaminnya, dan kita dengan suka cita mengucapkan, “selamat ya, anak ibu laki-laki,” atau ketika memiliki vagina, “selamat ya, anak ibu perempuan.”  

Selanjutnya, berdasar pada seks atau jenis kelamin inilah sang bayi yang baru lahir sebagai “manusia baru” dicatatkan kepada negara di dalam akte kelahiran sehingga ia memiliki identitas atas jenis kelaminnya yang syah secara hukum. Dari sanalah pula si bayi biasanya secara otomatis dilekatkan kepada seperangkat peran gender serta seksualitas tertentu yang dianggap sesuai dengan seks atau jenis kelaminnya, sehingga kemanusiaannya “seolah” sah dan diakui sebagai bagian dari kehidupan sosial manusia.

Lalu bagaimana jika bayi yang didapati adalah bayi ”interseks” yakni bayi dengan kromosom perempuan serta ovarium, tapi alat kelamin eksternal yang muncul adalah laki-laki? atau bayi yang memiliki kromosom laki-laki, tapi alat kelamin eksternal yang terbentuk tidak lengkap atau ambigu seperti perempuan? Atau bayi yang memiliki hanya satu kromosom X (X0) atau kromosom dengan kombinasi XXX atau XXY? Apakah akan ada ucapan suka cita kita, ”selamat ya, anak ibu.....” Jenis kelamin apa yang akan diinformasikan dokter atau bidan bersalin kepada ibunya? dan bagaimana soal pencatatan identitas bayi dalam akte kelahiran? bagaimana pula dengan seperangkat peran gender dan seksualitas yang akan dilekatkan kepadanya sehingga kemanusiaannya diakui menjadi bagian dari kehidupan sosial manusia?

Lalu bagaimana pula dengan trans-seksual yaitu seseorang yang merasa dirinya laki-laki atau perempuan namun berada di dalam tubuh yang salah (opposite sex). Berbeda dengan interseks yang terlihat secara medis pada masa bayi, maka kebanyakan trans-seksual menyadari dirinya opposite dari seks yang terberi pada saat mereka remaja atau bertumbuh dewasa dan diantaranya –biasanya yang mapan secara ekonomi- ada yang mengambil keputusan melakukan penyesuaian kelamin seperti perubahan hormon (hormonal treatments) dan melakukan operasi penyesuaian alat kelamin, penambahan atau pembuangan payudara (Surgery). Surgery dan hormonal treatments ini dapat dilakukan oleh male atau female Transsexuals.

Realitas ini sudah pasti memunculkan masalah jika kita mengacu kepada definisi seks biner yaitu laki-laki dan perempuan, bersifat permanen (tidak bisa berubah), karena memporak-porandakan atau mengacaukan matrik seks (dan juga keyakinan gender) yang univocal dan mapan ini. Label yang dianggap tepat, yang biasanya kita berikan kepada si “pengacau” ke-biner-an ini adalah sebutan “abnormal”, “kelainan” atau “menyimpang”. Disini, “interseks dan trans-seksual” tidak kita lihat sebagai sebuah kelahiran dan fakta kehidupan yang bergerak kearah pluralitas, melainkan sebuah “kesalahan” yang harus diperbaiki.

Pandangan ini tentu saja keliru dan malah menghadirkan penderitaan serta kekerasan berbasis jenis kelamin yang mencederai kemanusiaan, karenanya kita perlu meredefinisi ulang konsep seks dan pengertiannya.

Seks, yang menurut Rubin Gayle (1975) dalam esainya Traffic in Women: Notes on the “Political Economy” of Sex, adalah sebuah fakta biologis, maka harus kita lihat dan tempatkan sebagai fakta biologis, yakni sebagai keterbukaaan terhadap beragam fakta biologis yang ada. Terbuka bahwa “manusia dan kebertubuhnya adalah plural”.  Dan seks -walau dianggap sebagai kodrat (pemberian Tuhan)- bukanlah suatu hal yang permanen, yang stabil dan tetap. Tetapi bersifat cair, bisa berubah dan dirubah sesuai keinginan, penghayatan dan perasaan si “manusia” sebagai empunya tubuh.

Dengan begitu, maka ketika kita menyoal seks baik itu konsep dan pengertiannya, maka bukan sekedar membicarakan tubuh manusia laki-laki dan tubuh manusia perempuan saja, tetapi juga tubuh manusia interseks, tubuh manusia trans-seksual serta tubuh-tubuh manusia baru yang memungkinkan muncul. Karenanya, pengakuan terhadap eksistensi jenis kelamin ketiga baik yang diakui oleh masyarakat dan dilegalkan oleh Negara menjadi kebutuhan mendasar atas fakta adanya jenis kelamin di luar laki-laki dan perempuan.(Agustine)

   

Referensi:

1.       Sumber: adam.about.net

2.       Trans-seksual biasanya baru terlihat pada masa remaja atau dewasa

3.       Sumber: http://transsexual.org/What.htmlWhat Transsexuality Is”

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)