Info Kit LBT

Kekerasan Dalam Rumah Tangga Sesama Jenis

Mencegah dan Mengenali KDRT Dalam Relasi Intim Sesama Jenis

Ardhanary Institute | Rabu, 08 Mei 2013 - 09:51:16 WIB | dibaca: 1048 pembaca

ArdhanaryInstitute- Ketika membaca judul tulisan ini, mungkin sebagian dari kita merasa asing dengan istilah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Sesama Jenis, karena biasanya kita mendengar soal KDRT hanya dalam relasi heteroseksual. Sebenarnya, apa yang dimaksud denga KDRT Relasi Sesama Jenis?

Mengacu pada definisi KDRT dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) maka Ardhanary Institute mendefinisikan KDRT Relasi Sesama Jenis sebagai “setiap perbuatan terhadap pasangan intim dalam relasi homoseksual (lesbian/ gay) yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan pasangan dalam lingkup rumah tangga sesama jenis (homoseksual).”

 

Kekerasan yang mungkin terjadi dalam relasi intim sesama jenis dapat berupa:

  1. Kekerasan Fisik: yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat, seperti didorong, dipukul, dijambak, ditendang, ditampar, dibanting, dll.
  2. Kekerasan Psikis: yaitu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilang rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang, seperti dihina, dicaci, diancam, dilarang berhubungan dengan keluarga atau teman, dll.
  3. Kekerasan Seksual: yang meliputi pemaksaan hubungan seksual, posisi hubungan seksual tertentu, dipaksa untuk terus melahirkan, atau pemaksaan hubungan seksual dengan tujuan komersil (‘melacurkan’ istri).
  4. Kekerasan Ekonomi: membatasi atau melarang pasangan bekerja sehingga mengakibatkan ketergantungan ekonomi; atau dipaksa untuk bekerja mencari nafkah.

 

Mengenali Hubungan Sesama Jenis Berkekerasan

Berada dalam sebuah hubungan sesame jenis yang mengandung unsur kekerasan, dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Siapapun bisa mengalaminya tanpa memandang usia, kekayaan, pendidikan, asal suku, maupun agama.

 

Banyak lesbian dan gay mengalami KDRT dari pasangan yang menceritakan bahwa sebenarnya perilaku kekerasan pasangannya sudah terlihat sejak mereka awal jadian. Mulai dari rasa cemburu yang berlebihan, suka mengontrol dengan siapa atau kemana kita pergi, sampai dengan melarang memotong rambut atau bergaul, bahkan ada pula loh yang sudah melakukan pemukulan sejak masa awal jadian. Sebenarnya perilaku tersebut adalah tanda-tanda bahwa pasangan bisa menjadi pelaku kekerasan. Seringkali kita tidak menyadarinya dan malah justru menganggapnya sebagai ungkapan besarnya perhatian dan cinta. Apalagi jika pasangan mengatakan bahwa itu demi kebaikan kita.

Cobalah tanyakan ke diri sendiri, apakah pasangan:

  1. Sangat pencemburu? Penuntut?
  2. Selalu ingin tahu secara detail kegiatan harian kita?
  3. Melarang kita berhubungan dengan orang lain, termasuk keluarga dan teman-teman?
  4. Cenderung kejam terhadap binatang atau orang yang dianggapnya tidak sederajat (pekerja rumah tangga, bawahan, orang yang lebih muda, dll)?
  5. Cenderung merendahkan atau suka menghina permpuan?
  6. Emosinya naik turun? Mudah marah dan kasar?
  7. Melakukan kekerasan terhadap pasangan sebelumnya?
  8. Menganggap bahwa kita miliknya yang tidak boleh dimiliki orang lain dan hanya boleh dikuasai sendiri?
  9. Membuat kita takut padanya ketika dia marah?
  10. Cenderung menyalahkan orang lain dalam atas tindakannya, atau ketika menghadapi persoalan?
  11. Mengalami ketergantungan obat-obatan terlarang atau minuman keras?
  12. Bisa tampil menjadi dua orang yang sangat berbeda? Sesaat yang lalu dia akan memukul dan memaki, tapi sesaat kemudian dia akan meminta maaf, menangis, dan memohon-mohon kita untuk kembali padanya?
  13. Sering mengatakan bahwa dia melakukan itu semua demi kebaikan kita?
  14. Dan apakah orang-orang yang peduli pernah menyatakan kekhawatiran akan kebahagiaan relasi atau keselamatan kita?

Jika anda menjawab YA pada satu atau lebih pernyataan tersebut di atas, kemungkinan anda berada dalam hubungan berkekerasan. Anda tidak sendirian, segera cari bantuan ke orang-orang atau lembaga yang anda anggap bisa dipercaya.

Bagi mereka yang mengalami KDRT, meninggalkan hubungan berkekerasan bukanlah yang mudah. Salah satu yang menyebabkan seorang lesbian/ gay bertahan menghadapi ancaman atau teror kekerasan adalah perasaan cinta dan besarnya harapan bahwa pasangannya bisa berubah. Apalagi setelah melakukan kekerasan, umumnnya pasangan memohon minta maaf, berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, atau berubah menjadi sangat baik. Bahkan ada pula yang mengatakan dengan nada lembut “tuh kan, kamu sih…aku jadi lepas kontrol/ khilaf nih”. Akibatnya mungkin kita merasa bersalah jika tidak mau memaafkannya, atau meyakini bahwa kitalah yang menyebabkan pasangan lepas kendali. Padahal tidak lama kemudian, pasangan kembali melakukan kekerasan dan kembali minta maaf. Begitu seterusnya, berulangkali. Lama-kelamaan kekerasan yang terjadi seperti lingkaran yang tak berujung. Bukannya menunjukkan perubahan, pasangan justru semakin kasar dan semakin sering melakukan kekerasan.

Jika kita masih ragu apakah kita terjebak dalam lingkaran kekerasan atau tidak, cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Pada saat pertama kali melakukan kekerasan, apa bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan anda? Psikis? Penelantaran ekonomi? Seksual? Fisik?
  2. Saat ini apa saja bentuknya? Semakin banyak ataukah semakin sedikit bentuknya?
  3. Pada saat pertama kali melakukan kekerasan, seberapa sering dalam sebulan kekerasan itu terjadi?
  4. Saat ini, seberapa sering dalam sebulan kekerasan tersebut terjadi?
  5. Apakah kekerasan yang terjadi semakin lama semakin berat? Misalnya, pertama kali anda hanya didorong, tetapi saat ini anda sudah dipukul hingga lebam di sekujur tubuh.
  6. Apakah kekerasan yang terjadi semakin lama semakin merendahkan anda sebagai manusia? Misalnya, anda tidak hanya dicaci maki di rumah, namun juga di depan umum; atau Pemukulan berkurang tetapi anda dipaksa untuk meminum air seni suami; dll.
  7. Apakah anda semakin jarang bertemu dengan atau keluarga anda?

Jika dari pertanyaan di atas, jawaban anda menunjukkan semakin banyak bentuk kekerasannya, semakin sering terjadinya, semakin parah, semakin merendahkan, atau semakin anda jauh dari lingkungan terdekat yang bisa mendukung anda, maka kemungkinan anda terjebak dalam lingkaran kekerasan.

Yang perlu untuk disadari ialah, pelaku SULIT untuk berubah dan kita TIDAK BISA mengubahnya. Yang bisa mengubah pelaku, hanya DIRINYA SENDIRI. Perubahan tersebut mungkin terjadi jika pelaku mengkuti serangkaian proses konseling khusus dan diikuti oleh keinginan yang kuat untuk berubah.

Jika pelaku tidak menunjukkan adanya usaha dan keinginan yang kuat untuk berubah, maka situasi berkekerasan hanya bisa berhenti jika kita memutuskan untuk keluar dari lingkaran kekerasan. Siapkan diri sebaik mungkin sebelum keluar dari lingkaran kekerasan tersebut.

Semoga tulisan ini yang dikutip dan diadopsi dari buku saku “Lepas Dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga” terbitan Yayasan Pulih bisa membantu menguatkan anda sebelum mengambil keputusan. Apapun pilihan yang akan diambil, semoga itu menjadi pilihan yang paling mungkin yang bisa dibuat dalam situasi yang sulit.

 

Mari kita bangun rumah tangga relasi sesama jenis yang sehat dan bahagia!

 

(Info Kit LBT @2013 dikutip dan diadopsi dari buku “Lepas Dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga” terbitan Yayasan Pulih dan disesuaikan dalam lingkup relasi intim sesama jenis. Ditulis ulang oleh Panca, Ino, Arie)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)